Beranda

Kamis, 30 Mei 2013

Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar (ra)

Abu Dzar Al-Ghifari berkata: pada suatu hari aku datang kepada Rasulullah saw, saat itu beliau berada di masjidnya dan tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali Rasulullah saw dan Ali (sa) berada di sampingnya. Dalam suasana yang sunyi di dalam masjid aku berkata kepada beliau: Ya Rasulallah, demi ayahku dan ibuku, berilah aku suatu wasiat yang dengannya Allah memberi manfaat padaku. 

Rasulullah saw bersabda: "Baiklah Abu Dzar, aku memuliakanmu, karena kamu termasuk golongan kami Ahlul bait. Aku wasiatkan padamu suatu wasiat, maka jagalah wasiat ini. Karena wasiat ini meliputi kebaikan dan jalan-jalannya. Jika kamu menjaganya, maka dengannya kamu akan seperti fulan.
Wahai Abu Dzar, sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Ketahuilah! Sesungguhnya awal ibadah kepada Allah adalah pengenalan terhadap-Nya, Dialah Yang Awal sebelum segala sesuatu, sehingga tidak ada sesuatu sebelum-Nya. Keesaan-Nya tidak ada yang kedua bagi-Nya; keabadian-Nya tak berakhir; Dialah Pencipta langit dan bumi, dan segala isinya serta yang ada di antara keduanya. Dia Maha Lembut dan Maha Mengetahui; Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kemudian beriman padaku, mengakui bahwa Allah swt telah mengutusku bagi seluruh manusia, untuk menyampaikan berita bahagia dan berita yang menakutkan, mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, menjadi pelita dan cahaya yang menerangi.
Selanjutnya, mencintai Ahlul baitku yaitu mereka yang telah dijaga oleh Allah dari segala noda dan disucikan dengan sesuci-sucinya.
Ketahuilah wahai Abu Dzar: Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah menjadikan Ahlul baitku bagi umatku seperti bahtera Nuh, orang yang menaikinya akan selamat dan orang yang membencinya akan tenggelam. Ahlul baitku juga seperti pintu hiththah Bani Israil, orang yang memasuki akan aman.
Wahai Abu Dzar, jagalah wasiatku ini maka kamu akan bahagia di dunia dan akhirat.
Wahai Abu Dzar, ada dua kenikmatan yang diingin oleh umumnya manusia: kesehatan dan kekosongan hati (tidak terbebani oleh urusan dunia).
Wahai Abu Dzar, manfaatkan dengan sungguh-sungguh tentang lima hal sebelum (datang) lima hal: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kefakiranmu, kekosonganmu sebelum kesibukanmu, hidupmu sebelum matimu.
Wahai Abu Dzar, janganlah menunda amalmu hari ini karena kamu tidak tahu hari esok. Jika kamu masih ada pada hari esoknya, maka jadikan hari esok seperti hari ini. Jika kamu tidak ada hari esok, maka kamu tidak akan menyesali apa yang kamu lalui hari ini.
Wahai Abu Dzar, betapa banyak masa depan yang tak tersempurnakan, dan menunggu hari esok yang tak dapat menyampaikan.
Wahai Abu Dzar, sekiranya kamu melihat ajalmu dan perjalanannya niscaya kamu akan marah pada angan-angan dan tipudayanya.
Wahai Abu Dzar, jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang melintasi jalan. Hitunglah dirimu bagian dari penghuni kubur.
Wahai Abu Dzar, jika kamu berada di pagi hari maka jangan jadikan dirimu sore hari, jika kamu berada di sore hari maka jangan jadikan dirimu pagi hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu, hidupmu sebelum matimu, karena kamu tidak tahu apa namamu esok hari.
Wahai Abu Dzar, waspadai kejatuhanmu diketahui saat ketergelinciranmu, sehingga itu tak dapat dikatakan tergelincir. Kamu tak akan dapat kembali. Tak akan terpunji oleh orang sesudahmu apa yang kamu tinggalkan. Dan tak dapat beralasan pada orang sebelummu dengan kesibukan.  (Makarimul Akhlaq, Syeikh Ath-Thabrasi: 459)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar